Abu dan Ummu, Islam mengatur kehidupan seorang hamba dengan sangat sempurna. Dari hal yang besar hingga hal yang sangat kecil sekalipun. Di antara hal kecil yang diatur dalam Islam adalah Tidur.
Tidur bagi seorang muslim adalah hal yang sangat penting. Penting, karena dalam tidurnya ia mengumpulkan tenaga untuk beribadah kepada Allah. Nah, bagi putra-putri kita, tidur merupakan kebiasaan yang tidak pernah lepas oleh mereka. Bagi seorang anak, mereka bisa menghabiskan sekitar 10 jam untuk tidur.
Oleh karena itu, bagi orangtua hendaknya memberikan perhatian lebih kepada anak dalam mengajarkan adab dan etika dalam tidur yang diatur dalam agama Islam. Di antara adab-adabnya: 1.Ajari anak untuk berwudhu sebelum tidur. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah - shollallohu ‘alaihi wa sallam -,
“Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan shalat.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
2.Kenalkan pula sunnah membersihkan tempat tidur dari kotoran. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam -,
“Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan ‘bismillah’, karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
3.Senantiasa membiasakan anak membaca ayat-ayat Al-Quran, antara lain:
a) Membaca ayat kursi.
b) Membaca dua ayat terakhir surat al-Baqarah.
c) Mengatupkan dua telapak tangan lalu ditiup dan dibacakan surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Naas kemudian dengan dua telapak tangan mengusap dua bagian tubuh yang dapat dijangkau dengannya dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan, hal ini diulangi sebanyak 3 kali.
Apabila anak belum bisa membaca sendiri, bisa dituntun terlebih dahulu. Insya Allah, jika terus dilakukan, maka mereka akan terbiasa dan hafal dengan sendirinya.
4.Hendaknya mengakhiri berbagai doa tidur dengan doa berikut:
بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ
“Dengan Nama-Mu, ya Rabb-ku, aku meletakkan lambungku. Dan dengan Nama-Mu pula aku bangun daripadanya. Apabila Engkau menahan rohku (mati), maka berilah rahmat padanya. Tapi apabila Engkau melepaskannya, maka peliharalah, sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih.” (Muttafaqun alaihi)
5.Anjurkan anak untuk memulai tidur dengan mendahulukan posisi tidur di atas sisi sebelah kanan (rusuk kanan sebagai tumpuan) dan berbantal dengan tangan kanan, Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah - shollallohu ‘alaihi wa sallam -,
“Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (Muttafaqun Alaihi)
Dalam riwayat yang lain disebutkan,
“Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)
Demikianlah beberapa adab dalam tidur. Insya Allah masih berlanjut pada edisi selanjutnya. Wallahu a’lam (abahnya_shofi)
by:
http://majalahsakinah.com/2010/07/22/tidur-sesuai-sunnah-nabi/
Selengkapnya...
Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts
Sunday, August 22, 2010
Penyebab si Kecil Mengumpat
Abu dan Ummu, mungkin Anda pernah dibuat terkejut saat si kecil tiba-tiba sering mengeluarkan kata-kata kasar/mengumpat? Apakah Anda dibuat bingung bagaimana cara menghadapinya?
Abu dan Ummu, ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi timbulnya kebiasaan buruk tersebut, salah satunya adalah lingkungan. Mungkin Anda tidak menyadari bahwa perilakunya yang kasar diadaptasi dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga.
Beberapa Penyebab
1. Orang tua dan pola asuh
Pola asuh sangat berpengaruh pada tingkat emosi seorang anak dan cara bagaimana ia bersikap. Anda sebagai orang tua merupakan panutan baginya. Dari orang tua, si kecil untuk pertama kali mempelajari dan mencontoh perilaku. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam bersikap dan bertindak kepada siapapun, baik kepada anggota keluarga ataupun orang lain. Jangan sampai si kecil melihat dan meniru berperilaku Anda yang mungkin tanpa Anda sadari kasar terhadap orang lain.
2. Lingkungan luar
Lingkungan di sekitar rumah ataupun di sekolah juga berperan besar dalam pembentukan karakter anak.
3. Media
Beberapa jenis media, terutama TV dan komputer ikut memengaruhi perkembangan si kecil. Bentuk kekerasan serta kata cacian dan makian yang muncul dalam berbagai tayangan TV dan media lainnya dapat menambah kosa kata dan perilaku buruk si kecil.
4. Makanan
Mungkin tidak banyak yang tahu, ternyata faktor makanan juga dapat memicu perkembangan emosi anak. Jenis makanan yang mengandung tambahan zat kimia, pengawet, dan zat berbahaya diyakini dapat membuat si kecil temperamental.
Abu dan Ummu, untuk menangani hal ini ada beberapa kiat yang perlu kita ketahui. Simak kiat-kiat tersebut dalam lembar “Ya Bunayya” majalah Nikah Sakinah edisi Agustus 2010
by:
http://majalahsakinah.com/2010/08/11/penyebab-si-kecil-mengumpat/ Selengkapnya...
Abu dan Ummu, ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi timbulnya kebiasaan buruk tersebut, salah satunya adalah lingkungan. Mungkin Anda tidak menyadari bahwa perilakunya yang kasar diadaptasi dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga.
Beberapa Penyebab
1. Orang tua dan pola asuh
Pola asuh sangat berpengaruh pada tingkat emosi seorang anak dan cara bagaimana ia bersikap. Anda sebagai orang tua merupakan panutan baginya. Dari orang tua, si kecil untuk pertama kali mempelajari dan mencontoh perilaku. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam bersikap dan bertindak kepada siapapun, baik kepada anggota keluarga ataupun orang lain. Jangan sampai si kecil melihat dan meniru berperilaku Anda yang mungkin tanpa Anda sadari kasar terhadap orang lain.
2. Lingkungan luar
Lingkungan di sekitar rumah ataupun di sekolah juga berperan besar dalam pembentukan karakter anak.
3. Media
Beberapa jenis media, terutama TV dan komputer ikut memengaruhi perkembangan si kecil. Bentuk kekerasan serta kata cacian dan makian yang muncul dalam berbagai tayangan TV dan media lainnya dapat menambah kosa kata dan perilaku buruk si kecil.
4. Makanan
Mungkin tidak banyak yang tahu, ternyata faktor makanan juga dapat memicu perkembangan emosi anak. Jenis makanan yang mengandung tambahan zat kimia, pengawet, dan zat berbahaya diyakini dapat membuat si kecil temperamental.
Abu dan Ummu, untuk menangani hal ini ada beberapa kiat yang perlu kita ketahui. Simak kiat-kiat tersebut dalam lembar “Ya Bunayya” majalah Nikah Sakinah edisi Agustus 2010
by:
http://majalahsakinah.com/2010/08/11/penyebab-si-kecil-mengumpat/ Selengkapnya...
Maafmu Malaikatmu
Tak cukup waktu seribu tahun untuk memahami wanita? Setidaknya, itulah ungkapan para pakar kejiwaan barat seperti Freud, misalnya. Tapi terkadang kata maaf, cukup bagi wanita untuk mengubah diri dari sosok “kucing yang jinak”. Itulah uniknya wanita, dan demikianlah uniknya manusia.
Membangun Toleransi dengan “Maaf”
Tanpa toleransi, tak pernah niscaya. Kita harus membangun toleransi dalam jiwa kita untuk berdamai dengan kedukaan, bersapa akrab dengan kepedihan, berbaur nyaman dengan kegembiraan, dan tak menjadi takabur segala kelebihan.
Bila itu ada pada jiwa kita, demikian juga terhadap orang lain. Bayangkanlah kepenatan hidup ketika setiap kemarahan orang menjadi bencana bagi kita, kebobrokan moral orang menjadi kiamat dalam hidup kita. Ketika kepasrahan memaksa orang berdamai dengan bencana, maka kesadaran manusiawi seharusnya memaksa kita bertoleransi terhadap segala kekurangan orang lain. Itulah makna sejati dari sebuah kata singkat yang mukjizat…: “MAAF”. Maka Allah berfirman,
“Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhya Allah menyukai orang-orang berbuat baik.” (al-Maidah : 13)
“Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (al-Hijr : 85)
“Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (al-Baqarah : 109)
Allah bahkan menyandingkan kata “maaf” dengan peringatan terhadap kiamat. Betapa kata maaf erat sekali hubungannya dengan perjalanan seorang muslim menuju akhirat. Artinya, tanpa menjadi pribadi yang pemaaf, seorang muslim tak akan dapat memasuki Surga yang begitu luhur dan mulia. Surga adalah tempat bagi kaum pemaaf.
Aisyah – rodhiyallohu ‘anha — menceritakan, “Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — bukanlah orang yang kasar dan suka berkata keji, bukan orang yang suka berteriak-teriak di pasar-pasar, tidak suka membalas kejahatan, namun justru suka memaafkan dan toleran.” [1]
Bila rumah tangga bertabur maaf, ia akan tumbuh dengan aura toleransi yang memberi kenikmatan pada setiap anggotanya. Istri akan sangat berbahagia di sisi suami yang pemaaf dan mudah bertoleransi. Begitu pula sebaliknya. Anak-anak akan hidup dalam damai, karena segala kekurangan mereka “dikoreksi”, tanpa “diadili”. Bila pun harus diadili, mereka tak akan diberi sanksi, kecuali sebatas sanksi itu berfungsi baik membangun kebaikan pada diri mereka.
Bila budaya toleransi dibangun baik dalam hidup, maka udara kehidupan akan terasa sejuk, dan nilai-nilai kebajikan akan tumbuh subur laksana jamur di musim hujan.
Apa itu berarti membiarkan kemungkaran berseliweran (lalu lalang) dalam kehidupan rumah tangga tanpa dicegah dan dikoreksi? Saya yakin pembaca tahu, bahwa bukan itu maksudnya. Karena seorang muslim lebih wajib bertoleransi dengan keridhaan Allah, ketimbang keridhaan umat manusia, sepenuh dunia sekali pun.
Antara Memberi dan Meminta Maaf
Syekh Ibrahim bin al-Hamd, saat menjelaskan kewajiban suami memenuhi kebutuhan istri menegaskan,
“Bukan berarti suami dapat terus-menerus melalaikan hak-hak istrinya. Sebaliknya, ia harus memperhatikannya dan mohon maaf jika ia lalai dalam memenuhi haknya serta mengingatkan pahala yang akan ia terima atas kesabarannya.” [2]
Menjalankan kewajiban, lalu meminta maaf bila melakukan kekurangan. Itu intinya. Seperti memberi maaf, meminta maaf pun butuh dibiasakan. Toleransi dengan maaf adalah perpaduan antara bertoleransi dengan mudah memberi maaf, dan bertoleransi untuk mudah meminta maaf. Keduanya harus seimbang. Tak cukup seseorang banyak memberi maaf kepada siapa pun tanpa ia mudah meminta maaf atas segala kekeliruannya, atau atas segala kemungkinan di mana ia bisa saja keliru tanpa ia menyadarinya.
Kita akan menjadi pribadi yang didekati orang, bila kita bertabur maaf. Orang senang berdekatan dengan kita. Karena kemarahan kita, tak membuat kita “menyegel” derajat orang di depan kita. Karena emosi kita, tak membuat kita merasa patut berlaku zhalim pada siapa pun. Bahkan kezhaliman orang terhadap kita pun tak lantas membuat kita layak melakukan kezhaliman serupa terhadapnya. Berbahagialah orang yang hidup dekat dan berinteraksi rapat dengan orang yang punya segudang maaf di hatinya.
Tapi, akan buyar segala penghormatan manusia terhadap orang dengan kekayaan maafnya, bila orang itu selalu merasa pantang memohon maaf bahkan atas kesalahan fatalnya sekali pun terhadap orang lain. Ia hanya pandai memberi, tanpa lihai menawarkan diri. Mudah memberi maaf, tapi sulit meminta maaf.
Cobalah amati firman Allah berikut,
“Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik…”
Di akhir ayat, Allah menegaskan,
“Barangsiapa yang melampui batas sesudah itu maka baginya siksa yang sangat pedih.” (al-Baqarah 178)
Meminta maaf dalam Islam disebut tahillah. Proses sederhananya sebenarnya ada dalam konsep tobat, bila terkait dengan hak orang lain.
1. Menyesali perbuatan dosa yang dilakukan.
2. Meninggalkan dosa tersebut.
3. Bertekad tak mengulanginya lagi
4. Mengembalikan hak orang lain, atau meminta dihalalkan atas kesalahannya.
Bila seseorang banyak menggunjing orang lain misalnya, maka taubatnya hanya diterima bila ia menyesali kenapa ia sampai menggunjing sahabatnya itu. Lalu ia tinggalkan kebiasaan menggunjingnya. Setelah itu tanamkan tekad tak akan mengulanginya. Baru sesudah itu, minfa maaf.
Haruskan maaf itu dilafalkan di hadapan orang yang kepadanya kita meminta dimaafkan atau dihalalkan kekeliruan kita? Ada dua kemungkinan.
Pertama, itu wajib bila diyakini meminta maaf tak menimbulkan kekisruhan dan kemudaratan yang lebih besar. Contohnya, tak dikhawatirkan orang itu malah mengamuk, memukul, atau memutuskan hubungan persaudaraan keislaman misalnya.
Kedua, tak perlu bahkan tak boleh diucapkan bila kemungkinan mudharat dan bahaya lebih besar itu terlihat nyata. Maka, permohonan maaf itu dapat diganti dengan memperbaiki sikap kita di hadapan orang tersebut, memberinya hadiah, membantu dia keluar dari kesulitan hidup, dan banyak-banyak membicarakan kebaikan orang tersebut di hadapan siapa saja. Karakter yang seolah-olah sudah dibunuhnya selama ini, hendaknya dihidupkan kembali secara lebih nyata. Itu singkatnya.
Kenapa ini perlu saya tegaskan? Karena ada muslim yang berpandangan bahwa Islam mengajarkan kita memberi maaf, tapi tidak untuk meminta maaf. Itu keliru. Karena meminta dan memberi maaf, masing-masing memiliki keutamaan.
Bahkan orang tak layak disebut utama, bila ia hanya bisa memberi maaf tanpa bisa memintanya, atau selalu meminta maaf tapi begitu payah dalam memberi maaf. Yang terakhir ini bahkan lebih parah lagi. Karena orang yang banyak meminta maaf tanpa mudah memberi maaf adalah orang egois dalam makna yang paling menyebalkan.
Sebagai penutup, harus pula kita ingatkan bahwa segala sesuatu tidaklah boleh berlebihan. Begitu juga meminta atau memberi maaf. Tak boleh memberi maaf hingga pada batas melalaikan amar ma’ruf nahi munkar. Tak apik seseorang terlalu banyak meminta maaf sampai-sampai ungkapan itu hanya menjadi pemoles bibir saja. Banyak meminta maaf, lalu berbuat kekeliruan yang sama lebih banyak lagi.
Orang seperti itu tak butuh diingatkan untuk banyak mengumbar permintaan maaf, tapi cukup diberi penyadaran bahwa meminta maaf pun ada konsekuensinya. Jangan cuma minta maaf, tapi yang penting kesalahan itu jangan diulangi lagi! (***)
Catatan kaki:
[1] Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dalam al-Birr, no. 2017. Diriwayatkan oleh Thayalisi (2423), Ahmad (VI : 174, 236, dan 246) sanad-nya shahih, bagian pertama darinya dikuatkan oleh beberapa syahid pada Abû Syekh, hal. 37).
[2] Lihat: Min Akhtha al-Azwaj, Ibrahim al-Hamd, hlm. 45-49. Dalam buku ini, terdapat hadits yang menjelaskan tentang kelalaian suami terhadap istrinya dari sisi ini beserta cara mengatasinya.
by:
http://majalahsakinah.com/2010/07/24/maafmu-malaikatmu/ Selengkapnya...
Membangun Toleransi dengan “Maaf”
Tanpa toleransi, tak pernah niscaya. Kita harus membangun toleransi dalam jiwa kita untuk berdamai dengan kedukaan, bersapa akrab dengan kepedihan, berbaur nyaman dengan kegembiraan, dan tak menjadi takabur segala kelebihan.
Bila itu ada pada jiwa kita, demikian juga terhadap orang lain. Bayangkanlah kepenatan hidup ketika setiap kemarahan orang menjadi bencana bagi kita, kebobrokan moral orang menjadi kiamat dalam hidup kita. Ketika kepasrahan memaksa orang berdamai dengan bencana, maka kesadaran manusiawi seharusnya memaksa kita bertoleransi terhadap segala kekurangan orang lain. Itulah makna sejati dari sebuah kata singkat yang mukjizat…: “MAAF”. Maka Allah berfirman,
“Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhya Allah menyukai orang-orang berbuat baik.” (al-Maidah : 13)
“Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (al-Hijr : 85)
“Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (al-Baqarah : 109)
Allah bahkan menyandingkan kata “maaf” dengan peringatan terhadap kiamat. Betapa kata maaf erat sekali hubungannya dengan perjalanan seorang muslim menuju akhirat. Artinya, tanpa menjadi pribadi yang pemaaf, seorang muslim tak akan dapat memasuki Surga yang begitu luhur dan mulia. Surga adalah tempat bagi kaum pemaaf.
Aisyah – rodhiyallohu ‘anha — menceritakan, “Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — bukanlah orang yang kasar dan suka berkata keji, bukan orang yang suka berteriak-teriak di pasar-pasar, tidak suka membalas kejahatan, namun justru suka memaafkan dan toleran.” [1]
Bila rumah tangga bertabur maaf, ia akan tumbuh dengan aura toleransi yang memberi kenikmatan pada setiap anggotanya. Istri akan sangat berbahagia di sisi suami yang pemaaf dan mudah bertoleransi. Begitu pula sebaliknya. Anak-anak akan hidup dalam damai, karena segala kekurangan mereka “dikoreksi”, tanpa “diadili”. Bila pun harus diadili, mereka tak akan diberi sanksi, kecuali sebatas sanksi itu berfungsi baik membangun kebaikan pada diri mereka.
Bila budaya toleransi dibangun baik dalam hidup, maka udara kehidupan akan terasa sejuk, dan nilai-nilai kebajikan akan tumbuh subur laksana jamur di musim hujan.
Apa itu berarti membiarkan kemungkaran berseliweran (lalu lalang) dalam kehidupan rumah tangga tanpa dicegah dan dikoreksi? Saya yakin pembaca tahu, bahwa bukan itu maksudnya. Karena seorang muslim lebih wajib bertoleransi dengan keridhaan Allah, ketimbang keridhaan umat manusia, sepenuh dunia sekali pun.
Antara Memberi dan Meminta Maaf
Syekh Ibrahim bin al-Hamd, saat menjelaskan kewajiban suami memenuhi kebutuhan istri menegaskan,
“Bukan berarti suami dapat terus-menerus melalaikan hak-hak istrinya. Sebaliknya, ia harus memperhatikannya dan mohon maaf jika ia lalai dalam memenuhi haknya serta mengingatkan pahala yang akan ia terima atas kesabarannya.” [2]
Menjalankan kewajiban, lalu meminta maaf bila melakukan kekurangan. Itu intinya. Seperti memberi maaf, meminta maaf pun butuh dibiasakan. Toleransi dengan maaf adalah perpaduan antara bertoleransi dengan mudah memberi maaf, dan bertoleransi untuk mudah meminta maaf. Keduanya harus seimbang. Tak cukup seseorang banyak memberi maaf kepada siapa pun tanpa ia mudah meminta maaf atas segala kekeliruannya, atau atas segala kemungkinan di mana ia bisa saja keliru tanpa ia menyadarinya.
Kita akan menjadi pribadi yang didekati orang, bila kita bertabur maaf. Orang senang berdekatan dengan kita. Karena kemarahan kita, tak membuat kita “menyegel” derajat orang di depan kita. Karena emosi kita, tak membuat kita merasa patut berlaku zhalim pada siapa pun. Bahkan kezhaliman orang terhadap kita pun tak lantas membuat kita layak melakukan kezhaliman serupa terhadapnya. Berbahagialah orang yang hidup dekat dan berinteraksi rapat dengan orang yang punya segudang maaf di hatinya.
Tapi, akan buyar segala penghormatan manusia terhadap orang dengan kekayaan maafnya, bila orang itu selalu merasa pantang memohon maaf bahkan atas kesalahan fatalnya sekali pun terhadap orang lain. Ia hanya pandai memberi, tanpa lihai menawarkan diri. Mudah memberi maaf, tapi sulit meminta maaf.
Cobalah amati firman Allah berikut,
“Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik…”
Di akhir ayat, Allah menegaskan,
“Barangsiapa yang melampui batas sesudah itu maka baginya siksa yang sangat pedih.” (al-Baqarah 178)
Meminta maaf dalam Islam disebut tahillah. Proses sederhananya sebenarnya ada dalam konsep tobat, bila terkait dengan hak orang lain.
1. Menyesali perbuatan dosa yang dilakukan.
2. Meninggalkan dosa tersebut.
3. Bertekad tak mengulanginya lagi
4. Mengembalikan hak orang lain, atau meminta dihalalkan atas kesalahannya.
Bila seseorang banyak menggunjing orang lain misalnya, maka taubatnya hanya diterima bila ia menyesali kenapa ia sampai menggunjing sahabatnya itu. Lalu ia tinggalkan kebiasaan menggunjingnya. Setelah itu tanamkan tekad tak akan mengulanginya. Baru sesudah itu, minfa maaf.
Haruskan maaf itu dilafalkan di hadapan orang yang kepadanya kita meminta dimaafkan atau dihalalkan kekeliruan kita? Ada dua kemungkinan.
Pertama, itu wajib bila diyakini meminta maaf tak menimbulkan kekisruhan dan kemudaratan yang lebih besar. Contohnya, tak dikhawatirkan orang itu malah mengamuk, memukul, atau memutuskan hubungan persaudaraan keislaman misalnya.
Kedua, tak perlu bahkan tak boleh diucapkan bila kemungkinan mudharat dan bahaya lebih besar itu terlihat nyata. Maka, permohonan maaf itu dapat diganti dengan memperbaiki sikap kita di hadapan orang tersebut, memberinya hadiah, membantu dia keluar dari kesulitan hidup, dan banyak-banyak membicarakan kebaikan orang tersebut di hadapan siapa saja. Karakter yang seolah-olah sudah dibunuhnya selama ini, hendaknya dihidupkan kembali secara lebih nyata. Itu singkatnya.
Kenapa ini perlu saya tegaskan? Karena ada muslim yang berpandangan bahwa Islam mengajarkan kita memberi maaf, tapi tidak untuk meminta maaf. Itu keliru. Karena meminta dan memberi maaf, masing-masing memiliki keutamaan.
Bahkan orang tak layak disebut utama, bila ia hanya bisa memberi maaf tanpa bisa memintanya, atau selalu meminta maaf tapi begitu payah dalam memberi maaf. Yang terakhir ini bahkan lebih parah lagi. Karena orang yang banyak meminta maaf tanpa mudah memberi maaf adalah orang egois dalam makna yang paling menyebalkan.
Sebagai penutup, harus pula kita ingatkan bahwa segala sesuatu tidaklah boleh berlebihan. Begitu juga meminta atau memberi maaf. Tak boleh memberi maaf hingga pada batas melalaikan amar ma’ruf nahi munkar. Tak apik seseorang terlalu banyak meminta maaf sampai-sampai ungkapan itu hanya menjadi pemoles bibir saja. Banyak meminta maaf, lalu berbuat kekeliruan yang sama lebih banyak lagi.
Orang seperti itu tak butuh diingatkan untuk banyak mengumbar permintaan maaf, tapi cukup diberi penyadaran bahwa meminta maaf pun ada konsekuensinya. Jangan cuma minta maaf, tapi yang penting kesalahan itu jangan diulangi lagi! (***)
Catatan kaki:
[1] Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dalam al-Birr, no. 2017. Diriwayatkan oleh Thayalisi (2423), Ahmad (VI : 174, 236, dan 246) sanad-nya shahih, bagian pertama darinya dikuatkan oleh beberapa syahid pada Abû Syekh, hal. 37).
[2] Lihat: Min Akhtha al-Azwaj, Ibrahim al-Hamd, hlm. 45-49. Dalam buku ini, terdapat hadits yang menjelaskan tentang kelalaian suami terhadap istrinya dari sisi ini beserta cara mengatasinya.
by:
http://majalahsakinah.com/2010/07/24/maafmu-malaikatmu/ Selengkapnya...
Apa Susahnya Meminta Maaf
Pertengkaran dalam rumah tangga, sering diibaratkan sebagai garam dalam sayuran. Kalau tak pernah ada, hidup berumah tangga rasanya hambar juga. Ada seorang istri yang suaminya tak pernah marah sekali pun, eh… sang istri malah jadi penasaran, bagaimana rasanya dimarahi suami! Yang pasti, tipe suami atau pasangan yang tak pernah marah itu amat langka!
Lazimnya, seharmonis apapun jalinan kasih antara pasutri, pasti pernah diwarnai oleh pertengkaran. Pertengkaran bisa terjadi mulai dari masalah sepele. Misalnya perbedaan selera. Bisa pula terjadi karena kesalahpahaman, kecemburuan, kekurangkompakan dalam menghadapi keluarga besar, dan sebagainya.
Tak jarang pula kemarahan pasutri tersulut ketika tidak sabar menghadapi anak rewel, terutama dalam kondisi lelah. Sering terjadi, seorang suami marah-marah ketika anak balitanya menangis keras. Kemudian ia menyalahkan istrinya sebagai perempuan yang tidak pandai mengurus anak! Ya, begitulah.
Lalu, apa yang mesti kita lakukan ketika dimarahi pasangan? Yang paling aman, tentu bersabar. Kemudian meminta maaf karena telah membuatnya marah. Mungkin itu tak mudah, apalagi bila kita merasa tak sepenuhnya bersalah. Tapi itu sebaiknya tetap kita lakukan, khususnya bagi seorang istri yang selalu dituntut agar bisa menyenangkan dan mendapatkan ridha suami.KETIKA SUAMI MERASA BERSALAH
Meminta maaf bagi seorang wanita mungkin lebih mudah. Berbeda dengan lelaki atau suami, biasanya egonya jauh lebih tinggi. Namun, ketika seorang suami marah dan bertengkar dengan istrinya, kadang ia pun tak luput dari “rasa bersalah”. Apalagi setelah ia mengetahui, ternyata istrinya benar-benar tak bersalah.
Mungkin Anda bingung apa yang sebaiknya Anda lakukan untuk meredakan ketegangan yang terjadi di antara Anda berdua, dan bagaimana cara menjembatani berbagai perasaan negatif yang dirasakan. Setelah bertengkar dengan pasangan, pasti bermacam-macam perasaan menjadi satu dalam hati kita. Benci, marah, jengkel, kesal, takut, cemburu, cinta, dan perasaan lainnya.
Memang setelah bertengkar, kita perlu waktu dan ruang untuk kembali merenung. Kembali berpikir mengenai pokok pertengkaran dengan pasangan tadi. Setelah hati mulai kembali tenang, pasti ada keinginan ataupun rasa kangen yang mendalam terhadap pasangan. Biasanya Anda juga menjadi takut, jika pasangan ternyata masih menyimpan kemarahan pada Anda.
Sebenarnya, dalam situasi seperti inilah kesabaran, ketabahan, dan cinta Anda berdua sedang diuji. Apakah cinta yang Anda rasakan kental atau hanya mengalir seperti air sungai. Saat bertengkar itulah, Anda berdua dapat lebih dalam lagi melihatnya.
Jika cinta Anda sangat besar pada pasangan, jangan takut untuk memperlihatkannya! Apalagi setelah bertengkar, jangan biarkan kemarahan dan kekesalan terus berlanjut. Bukalah hati Anda dengan berbicara baik-baik padanya sambil lebih dulu meminta maaf atas segala kesalahan yang membuatnya kesal dan marah.
Memang berat rasanya jika Anda yang harus pertama kali mengucapkan kata “maaf”. Tetapi, yakinlah, pasangan Anda akan memperhatikan hal ini. Memperhatikan dan berbangga hati karena seseorang yang dicintai dan mencintainya ternyata punya jiwa yang besar, dan menyadari bahwa pertengkaran itu karena kekhilafan Anda.
Perlu Anda ketahui juga bahwa meminta maaf bukanlah suatu hal yang membuat harga diri kita jatuh. Bukan pula berarti kita ingin menunjukkan bahwa dalam pertengkaran itu hanya Anda saja yang bersalah, bukan begitu. Justru, pasangan Anda akan sadar dengan sendirinya bahwa dirinya pun telah berbuat salah, makanya terjadi pertengkaran. Meminta maaf bukanlah suatu aib, karena Anda takkan dipandang sebagai seorang lemah dan tidak berkepribadian di mata si dia, akan tetapi sebaliknya.
Pasangan Anda juga akan terharu melihat keikhlasan Anda meminta maaf, dan akan berbangga hati karena mempunyai Anda yang dewasa dan berjiwa besar. Tentu saja hal itu akan selalu diingat sebagai satu perilaku yang patut ditirunya. Akhirnya, dengan adanya permintaan maaf ini, pasangan Anda akan tahu betapa besar cinta Anda terhadapnya, dan tidak ingin berpisah lagi dengan Anda.
Jangan lupa untuk mengikhlaskan diri dalam meminta maaf. Nah, selamat berbesar hati dan berdamai dengan pasangan Anda tanpa perlu turun gengsi!
TRIK MEMINTA MAAF
Ternyata, ada trik khusus agar kita lebih mudah mengucap kata maaf. Mau tahu?
1. Putuskan waktu yang tepat untuk meminta maaf. Terkadang lebih cepat lebih baik, namun terkadang sebaliknya, akan lebih baik meminta maaf ketika perasaan sudah lebih tenang dan kepala sudah dingin.
2. Kalau malu meminta maaf secara langsung, sampaikan maaf lewat tulisan, atau sms. Selain itu, Anda juga dapat mengutarakan isi hati Anda dengan berbagai cara. Lewat menulis surat dan meletakkannya di atas meja kerja pasangan Anda misalnya. Atau jika ingin membuatnya tersenyum, Anda dapat menulis permohonan maaf Anda dalam sebuah kartu bergambar lucu. Anda juga dapat mengirimkan bunga dengan ditulisi kata “maaf” dengan disertai puisi cinta romantis. Dijamin hatinya akan langsung luluh. Kalau mau mengutarakannya secara langsung, sertailah dengan pelukan dan kecupan mesra. Dijamin hatinya akan meleleh, berbalik tambah sayang dan cinta pada Anda. Di samping itu, katakan juga padanya bahwa Anda takkan mengulangi kesalahan itu.
3. Jangan gunakan kalimat yang memperlihatkan bahwa sebenarnya Anda tidak menyesal. Misalnya, “Saya mengaku salah, tapi….”
4. Meminta maaflah dengan sungguh-sungguh, akui benar kesalahan. Jangan cari pembenaran akan tindakan Anda.
5. Tunjukkan bahwa permintaan maaf Anda tulus, dan keinginan Anda untuk memperbaiki hubungan memang kuat.
6. Yang terakhir, sabarlah. Tidak semua permintaan maaf akan langsung diterima. Berilah waktu baginya untuk memberi maaf.
MENJADI LEBIH ROMANTIS
Setelah “baikan”, lakukan refreshing bersama, misal jalan-jalan piknik, makan di luar dan sebagainya. Pokoknya, lakukan hal-hal yang menyenangkan bersama-sama. Insya Allah begitu hubungan Anda berdua akan menjadi lebih romantis dari sebelumnya! Satu lagi yang lebih penting, jagalah diri Anda agar tidak melakukan kesalahan yang sama di hari-hari mendatang.(*)
by:
http://majalahsakinah.com/2010/07/18/apa-susahnya-meminta-maaf/ Selengkapnya...
Lazimnya, seharmonis apapun jalinan kasih antara pasutri, pasti pernah diwarnai oleh pertengkaran. Pertengkaran bisa terjadi mulai dari masalah sepele. Misalnya perbedaan selera. Bisa pula terjadi karena kesalahpahaman, kecemburuan, kekurangkompakan dalam menghadapi keluarga besar, dan sebagainya.
Tak jarang pula kemarahan pasutri tersulut ketika tidak sabar menghadapi anak rewel, terutama dalam kondisi lelah. Sering terjadi, seorang suami marah-marah ketika anak balitanya menangis keras. Kemudian ia menyalahkan istrinya sebagai perempuan yang tidak pandai mengurus anak! Ya, begitulah.
Lalu, apa yang mesti kita lakukan ketika dimarahi pasangan? Yang paling aman, tentu bersabar. Kemudian meminta maaf karena telah membuatnya marah. Mungkin itu tak mudah, apalagi bila kita merasa tak sepenuhnya bersalah. Tapi itu sebaiknya tetap kita lakukan, khususnya bagi seorang istri yang selalu dituntut agar bisa menyenangkan dan mendapatkan ridha suami.KETIKA SUAMI MERASA BERSALAH
Meminta maaf bagi seorang wanita mungkin lebih mudah. Berbeda dengan lelaki atau suami, biasanya egonya jauh lebih tinggi. Namun, ketika seorang suami marah dan bertengkar dengan istrinya, kadang ia pun tak luput dari “rasa bersalah”. Apalagi setelah ia mengetahui, ternyata istrinya benar-benar tak bersalah.
Mungkin Anda bingung apa yang sebaiknya Anda lakukan untuk meredakan ketegangan yang terjadi di antara Anda berdua, dan bagaimana cara menjembatani berbagai perasaan negatif yang dirasakan. Setelah bertengkar dengan pasangan, pasti bermacam-macam perasaan menjadi satu dalam hati kita. Benci, marah, jengkel, kesal, takut, cemburu, cinta, dan perasaan lainnya.
Memang setelah bertengkar, kita perlu waktu dan ruang untuk kembali merenung. Kembali berpikir mengenai pokok pertengkaran dengan pasangan tadi. Setelah hati mulai kembali tenang, pasti ada keinginan ataupun rasa kangen yang mendalam terhadap pasangan. Biasanya Anda juga menjadi takut, jika pasangan ternyata masih menyimpan kemarahan pada Anda.
Sebenarnya, dalam situasi seperti inilah kesabaran, ketabahan, dan cinta Anda berdua sedang diuji. Apakah cinta yang Anda rasakan kental atau hanya mengalir seperti air sungai. Saat bertengkar itulah, Anda berdua dapat lebih dalam lagi melihatnya.
Jika cinta Anda sangat besar pada pasangan, jangan takut untuk memperlihatkannya! Apalagi setelah bertengkar, jangan biarkan kemarahan dan kekesalan terus berlanjut. Bukalah hati Anda dengan berbicara baik-baik padanya sambil lebih dulu meminta maaf atas segala kesalahan yang membuatnya kesal dan marah.
Memang berat rasanya jika Anda yang harus pertama kali mengucapkan kata “maaf”. Tetapi, yakinlah, pasangan Anda akan memperhatikan hal ini. Memperhatikan dan berbangga hati karena seseorang yang dicintai dan mencintainya ternyata punya jiwa yang besar, dan menyadari bahwa pertengkaran itu karena kekhilafan Anda.
Perlu Anda ketahui juga bahwa meminta maaf bukanlah suatu hal yang membuat harga diri kita jatuh. Bukan pula berarti kita ingin menunjukkan bahwa dalam pertengkaran itu hanya Anda saja yang bersalah, bukan begitu. Justru, pasangan Anda akan sadar dengan sendirinya bahwa dirinya pun telah berbuat salah, makanya terjadi pertengkaran. Meminta maaf bukanlah suatu aib, karena Anda takkan dipandang sebagai seorang lemah dan tidak berkepribadian di mata si dia, akan tetapi sebaliknya.
Pasangan Anda juga akan terharu melihat keikhlasan Anda meminta maaf, dan akan berbangga hati karena mempunyai Anda yang dewasa dan berjiwa besar. Tentu saja hal itu akan selalu diingat sebagai satu perilaku yang patut ditirunya. Akhirnya, dengan adanya permintaan maaf ini, pasangan Anda akan tahu betapa besar cinta Anda terhadapnya, dan tidak ingin berpisah lagi dengan Anda.
Jangan lupa untuk mengikhlaskan diri dalam meminta maaf. Nah, selamat berbesar hati dan berdamai dengan pasangan Anda tanpa perlu turun gengsi!
TRIK MEMINTA MAAF
Ternyata, ada trik khusus agar kita lebih mudah mengucap kata maaf. Mau tahu?
1. Putuskan waktu yang tepat untuk meminta maaf. Terkadang lebih cepat lebih baik, namun terkadang sebaliknya, akan lebih baik meminta maaf ketika perasaan sudah lebih tenang dan kepala sudah dingin.
2. Kalau malu meminta maaf secara langsung, sampaikan maaf lewat tulisan, atau sms. Selain itu, Anda juga dapat mengutarakan isi hati Anda dengan berbagai cara. Lewat menulis surat dan meletakkannya di atas meja kerja pasangan Anda misalnya. Atau jika ingin membuatnya tersenyum, Anda dapat menulis permohonan maaf Anda dalam sebuah kartu bergambar lucu. Anda juga dapat mengirimkan bunga dengan ditulisi kata “maaf” dengan disertai puisi cinta romantis. Dijamin hatinya akan langsung luluh. Kalau mau mengutarakannya secara langsung, sertailah dengan pelukan dan kecupan mesra. Dijamin hatinya akan meleleh, berbalik tambah sayang dan cinta pada Anda. Di samping itu, katakan juga padanya bahwa Anda takkan mengulangi kesalahan itu.
3. Jangan gunakan kalimat yang memperlihatkan bahwa sebenarnya Anda tidak menyesal. Misalnya, “Saya mengaku salah, tapi….”
4. Meminta maaflah dengan sungguh-sungguh, akui benar kesalahan. Jangan cari pembenaran akan tindakan Anda.
5. Tunjukkan bahwa permintaan maaf Anda tulus, dan keinginan Anda untuk memperbaiki hubungan memang kuat.
6. Yang terakhir, sabarlah. Tidak semua permintaan maaf akan langsung diterima. Berilah waktu baginya untuk memberi maaf.
MENJADI LEBIH ROMANTIS
Setelah “baikan”, lakukan refreshing bersama, misal jalan-jalan piknik, makan di luar dan sebagainya. Pokoknya, lakukan hal-hal yang menyenangkan bersama-sama. Insya Allah begitu hubungan Anda berdua akan menjadi lebih romantis dari sebelumnya! Satu lagi yang lebih penting, jagalah diri Anda agar tidak melakukan kesalahan yang sama di hari-hari mendatang.(*)
by:
http://majalahsakinah.com/2010/07/18/apa-susahnya-meminta-maaf/ Selengkapnya...
Subscribe to:
Posts (Atom)



